RAPAT KOORDINASI DALAM RANGKA MEMENUHI KETERSEDIAAN DAGING AYAM POTONG SERTA MENGANTISIPASI DATANGNYA BULAN PUASA DAN LEBARAN 2018 DI PROVINSI BALI

Jumat, 27 April 2018


Rapat Koordinasi Dalam Rangka Memenuhi Ketersediaan Daging Ayam Potong Serta Mengantisipasi Datangnya Bulan Puasa Dan Lebaran dilaksanakan pada tanggal 27 April 2018 di Ruang Rapat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Jl. WR. Supratman No. 71 Denpasar yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ketua Pinsar Broiler Bali, Ketua Perpu Bali, Ketua Suplayer Daging Unggas, PT. Charoen Pokphand Indonesia, PT. Japfa Comfeed Indonesia, PT. Ciomas Adisatwa, PT. Wonokoyo Jaya Corporindo, PT. Malindo, PT. Sentosa Agri Indonesia, PT. Janu Putra, PT. Puri Pangan Sejati, CV. Semadi Putra, Serta para pelaku unggas lainnya.




Setelah mendengarkan penyampaian materi dari narasumber; serta diskusi yang sudah berlangsung, kesimpulan kegiatan ini adalah a). Pada bulan Januari 2018 telah diberlakukan larangan penggunaan AGP dan Anti Cocci, tetapi pelarangan tersebut belum memberikan pengaruh terhadap berat badan ayam saat panen, b). Memasuki bulan Maret pakan yang dipakai sudah murni tidak mengandung AGP dan Anti Cocci, sehingga pertumbuhan ayam menjadi melambat, dimana saat panen berat badan ayam hanya bisa mencapai 1,2 kg sampai 1,3 kg. Selain itu, DOC yang diterima kualitasnya menurun dan tidak seragam. Pada Minggu ke Tiga bulan April munculnya penyakit pada ayam yaitu peradangan pada usus karena tidak adanya Anti Cocci, hal ini berdampak pada kematian ayam dan produksi mengalami penurunan, c). Dengan adanya penurunan berat badan ayam saat panen, memberikan dampak pada produksi ayam. Hal ini menjadikan harga ayam secara perlahan meningkat di tingkat konsumen, dan menurunkan daya beli konsumen terhadap daging ayam, serta d). Pada bulan Mei, dimana akan dilaksanakan hari raya Galungan serta bulan puasa, produksi ayam sudah mengalami peningkatan. Peningkatan ini tidak terlepas dari kebutuhan akan daging ayam untuk kebutuhan hari raya di Bali. Namun di Bali sendiri tidak bisa menstok untuk produksi daging ayam sehingga pemotongan dari Jawa akan masuk ke Bali. Hal ini menyebabkan harga daging ayam di Bali tergantung dari harga ayam yang ada di Jawa. Saat memasuki bulan Juni permintaan ayam di Bali mengalami peningkatan, namun ketika menjelang Idul Fitri / lebaran, cenderung ada penurunan permintaan daging ayam secara perlahan sehingga harga daging ayam juga ikut turun dan produksi daging ayam stabil.