Pengembangan Pakan Ternak Berkualitas (GERBANGPATAS)

Jumat, 09 Maret 2018

Pakan adalah makanan untuk ternak yang menjadi sumber gizi dan merupakan kebutuhan primer bagi ternak. Pakan bagi ternak berguna untuk pertumbuhan serta produksi.

Secara garis besar pakan ternak ruminansia bisa dibedakan menjadi dua yaitu pakan serat dan pakan penguat. Pakan serat berupa hijauan, yang sering disebut hijauan pakan ternak (HPT) dan penguat adalah konsetrat.( IW Mathius - JITV, 2014). Hijauan pakan ternak adalah semua bentuk bahan pakan berasal dari tanaman atau rumput termasuk leguminosa baik yang belum dipotong maupun yang dipotong dari lahan dalam keadaan segar (Akoso, 1996).

Pakan ternak berkualitas adalah pakan ternak yang mengandung zat gizi tinggi diantaranya  rumput unggul dan leguminosa (polong-polongan). Rumput unggul yang sudah banyak ditanam diantaranya rumput gajah, rumput benggala dan rumput raja. Sedangkan leguminosa diantaranya gamal, kaliandra, dan indigofera. Hijauan pakan jenis leguminosa (polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan rumput-rumputan, jenis legum umumnya kaya akan protein, Ca dan P. Leguminosa memiliki bintil-bintil akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-bintil akar inilah bakteri bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran merupakan sumber protein dan mineral yang berkadar tinggi bagi ternak, disamping memperbaiki kesuburan tanah (AAK, 1983).

Dalam rangka penyediaan pakan ternak berkualitas, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali mengembangkan hijauan pakan ternak dengan menyebarkan rumput gajah dan leguminosa gamal dan indigofera melalui program gerakan penanaman dan pengembangan pakan ternak berkualitas yang disingkat dengan gerbangpatas. Melalui program gerbangpatas, pada tahun 2017, pemerintah telah menyebarkan rumput gajah sebanyak 6.950.000 stek, gamal sebanyak 215.350 stum dan indigofera sebanyak 263.100 stum di seluruh Kabupaten dan kota se-Bali. Hijauan ini ditanam oleh 139 kelompok tani dengan luas tanaman keseluruhan 695 Ha. Tingkat pertumbuhannya terpantau cukup bagus, rumput gajah rata-rata diatas 60% tumbuh sedangkan gamal dan indigofera mencapai 80%  tumbuh. Dalam tahun 2018 akan disebar rumput gajah 300.000 stek dan 30.000 stum indigofera di lahan milik 8 kelompok tani, seluas 3,75 Ha setiap kelompok.

Pemilihan ketiga jenis hijauan yakni rumput gajah, gamal dan indigofera untuk dikembangkan dalam program gerbangpatas, berdasarkan keunggulannya, yaitu kandungan nutrisinya  tinggi, mudah berkembang biak dengan laju pertubuhan relatif cepat dan penanamannya dapat dilakukan dengan mudah.

 Rumput Gajah atau bahasa latinnya Pennisetum purpureum merupakan rumput berukuran besar bernutrisi tinggi. Rumput gajah mempunyai ciri-ciri tumbuh tegak lurus, rumpun lebat, tinggi dapat mencapai 7 meter, berbatang tebal dan keras, daun panjang berbuga.  

Rumput gajah mengandung nutrisi :19,9% bahan kering, 10,2% protein kasar, 1,6% lemak, 34,2% serat kasar. Tumbuh dipermukaan tanah dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut (dpl) (Rukmana R, 2005)

Penanaman rumput gajah sangat mudah, hanya dengan menanam batangnya (stek) 3-5 ruas
 Rumpun Rumput Gajah  

dengan kemiringan 45 derajat di permukaan tanah. Tanaman akan akan menyebar ke samping membentuk rumpun. Panen pertama umur 90 hari. Panen selanjutnya 40 hari sekali pada musim hujan dan 60 hari pada musim kemarau. Tinggi potongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Potongan yang tertinggal di tanah akan tumbuh kembali. Produksi 100-200 ton rumput segar per hektar per tahun. Peremajaan atau mengganti dengan tanaman baru dilakukan setelah 4-6 tahun (Roekclien,J.C&Ping Sun, 1987). 

  Gamal atau bahasa latinnya Gliricidia sepium. termasuk tanaman leguminosa pohon yang banyak tumbuh di daerah tropis. Gamal dapat hidup dengan baik pada berbagai kondisi tanah, bahkan dapat tumbuh  pada tanah kering dengan musim kemarau lebih dari 6 bulan, tetapi tidak tahan terhadap air yang tergenang.

Gamal dapat diperbanyak dengan stek batang dan biji, namun perbanyakan dengan biji jarang
 Gamal  

dilakukan. Stek batang yang baik berasal dari batang bagian bawah dan tengah yang telah berumur lebih dari 10 bulan. Diameter stek antara 3–4 cm dan panjang stek 50–100 cm. Stek batang dapat juga ditancakan langsung di tanah atau disemaikan terlebih dahulu dalam kantong plastik (polybag), kemudian setelah tumbuh tunas 15–20 cm atau berumur 2–3 bulan baru dipindahkan ke tanah. Jarak tanam yang biasa dipakai 50 x 59 cm atau 100 x 100 cm dengan jarak antar barisan 2 m. Pemupukan umumnya jarang dilakukan, tetapi untuk mendapatkan hasil yang tinggi, dapat dilakukan pemupukan dengan pupuk buatan maupun pupuk kandang. Pupuk P dapat diberikan 35–40 kg/ha/tahun, sedangkan pupuk kandang tergantung pada kondisi lahan. Pemotongan pertama pohon gamal dianjurkan setelah tanaman berumur 1,5 tahun. Interval atau selang waktu pemotongan selanjutnaya setiap 3 bulan sekali.

Indogofera adalah tanaman jenis leguminosa (polong-polongan) yang bermanfaat untuk pakan ternak. Sekilas tanaman ini mirip dengan tanaman Gamal. Tumbuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium.

Menurut Hassen dan kawan-kawan, 2007, Indigofera sp. memiliki beberapa keunggulan, yaitu :


 
 Indigofera (belakang), Gamal (depan)

1). Dapat hidup pada ketinggian 1 sampai dengan 1800 meter di atas permukaan laut, tahan terhadap musim kering, tahan terhadap genangan air, tahan terhadap salinitas dan pertumbuhannya cepat. 2). Memiliki kandungan protein tinggi antara 26 – 31%. Dengan kandungan protein yang tinggi, disertai kandungan serat yang relatif rendah dan tingkat kecernaan yang tinggi (77%) maka Indigofera sangat baik sebagai pakan dasar maupun sebagai sumber protein dan energi untuk ternak dalam status produksi tinggi dan menyusui. 3). Karena toleran terhadap kekeringan, maka Indigofera sp. dapat dikembangkan di wilayah dengan iklim kering untuk mengatasi terbatasnya ketersediaan hijauan terutama selama musim kemarau. 4). Indigofera mengandung tanin sangat rendah, berkisar antara 0,6 – 1,4 ppm, kandungan tannin ini jauh di bawah taraf yang dapat menimbulkan sifat anti nutrisi. Rendahnya kandungan tanin ini menyebabkan Indigofera disukai ternak atau patabilitasnya tinggi. Dan dilaporkan juga bahwa Indigofera tidak mengandung racun.

Indigofera menghasilkan hijauan pakan cukup tinggi,  dapat mencapai 5 ton/ha bahan hijauan setelah berumur 2 bulan dan 25 ton/ha apabila berumur 6 bulan. Setelah dipotong indigofera bisa tumbuh kembali dengan cepat.

Dengan penanaman dan pengembangan hijauan pakan ternak berkualitas, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak, terutama ternak sapi bali yang menjadi unggulan bali, yang sedang dalam upaya meningkatkan populasinya melalui program (system pertanian terintegrasi (simantri) dan upaya khusus sapi wajib bunting (upsus siwab) untuk pelestarian sapi bali dan usaha peternakan sapi rakyat yang berkelanjutan. (Ni Wajan Leestyawati - Penyuluh Pertanian di Disnakkeswan Prov. Bali)


DAFTAR PUSTAKA

1.  Akoso, B.T. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.  
 AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Yayasan Kanisius, Yogyakarta
2. Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.
3.Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak tropic. Edisi Kedua. BPFE.
 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
4.Rukmana R, 2005. Budidaya rumput unggul, hijauan makanan ternak, Knisiun Yogyakarta.
5.(ragamcarabeternak.blogspot.com, 2014) IW Mathius - JITV, 2014 -
 peternakan.litbang.pertanian.go.id
6.ilmuternakkita.blogspot.com/2010/01/hijauan-pakan-ternak-forage.html
7.Roekclien,J.C&Ping Sun. 1987. A Profile of economic plants. New Brunswick: translation
 publishers.