PERAN UPT LABORATORIUM KESEHATAN HEWAN PROVINSI BALI DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN

Rabu, 13 Januari 2016

UPT. Laboratorium Kesehatan Hewan Provinsi Bali mempunyai peranan yang sangat penting khususnya dalam memberikan pelayanan laboratorium dan diagnosa penyakit hewan dan bahan asal hewan secara benar dan akurat sesuai dengan standar diagnosa laboratorium kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner nasional. Secara umum UPT Labkeswan melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat dalam kegiatan surveilans dan monitoring penyakit hewan dan bahan asal hewan. Sedangkan secara khusus UPT Labkeswan merupakan tempat yang digunakan untuk kegiatan pemeriksaan contoh yang berasal dari hewan maupun bahan asal hewan (BAH) untuk menetapkan diagnosa.

Sesuai Peraturan Gubernur Nomor 98 Tahun 2011, UPT Laboratorium Kesehatan Hewan mempunyai fungsi antara lain : melaksanakan teknis operasional penyidikan, pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi veteriner; melaksanakan investigasi, surveilans dan pelayanan

penanggulangan penyakit veteriner; merumuskan hasil penyidikan, pengujian dan pemetaan. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kaidah sistem pelayanan prima (mempunyai nilai manfaat untuk kepentingan masyarakat) di dalam pengendalian penyakit hewan dan mengetahui status keamanan, kesehatan, keutuhan serta kehalalan BAH yang layak dikonsumsi serta perlindungan terhadap konsumen dan pemberdayaan peternak.

Sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya data/informasi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner yang akurat dalam rangka :

1.      Mewujudkan sumberdaya peternakan yang produktif.

2.      Terkendalinya penyakit hewan menular strategis.

3.      Menekan resiko masuk dan menyebarnya penyakit yang disebabkan oleh pangan asal hewan (food borne disease).

4.      Mendorong peningkatan ketersediaan pangan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).

Kegiatan meliputi monitoring, surveilans dan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan baik melalui pelayanan aktif (pelayanan dan pengujian langsung di lapangan) maupun secara pasif (pelayananan pemeriksaan contoh yang masuk ke laboratorium), pada lokasi :

1.      Penyakit Hewan : ternak masyarakat /Simantri /kelompok ternak pemerintah; konservasi hewan; peternakan/breeder unggas.

2.      Pangan Asal Hewan : RPH/RPU; swalayan; pasar tradisional; peternak /pengepul /penjual telur; distributor susu segar; tempat produksi/importer/distributor BAH.

Dampak dari kegiatan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak dan terjaminnya keamanan masyarakat dalam mengkonsumsi BAH.

Pada Tahun 2015 UPT Labkeswan Provinsi Bali telah melaksanakan 71.037 pemeriksaan laboratorium dengan rincian :

 

No

Jenis Pengujian

Aktif

Pasif

Keterangan

1

Identifikasi telur cacing

788

0

42 Simantri/Klp ternak masy.

107

14

5 konservasi/kebun binatang

2

Brucellosis (RBT)

621

0

42 Simantri/Klp ternak masy.

91

0

1 farm sapi perah

3

Pullorum (Rapid test)

53.544

14.370

2 breeder farm; 3 klp PVUK

4

AI/Flu Burung

123

0

Pasar/pengepul unggas

5

Rabies (FAT)

573

0

kerjasama dg BBVET Dps

6

Uji fisik & kimiawi susu

1

42

2 distributor

7

Cemaran mikroba

168

110

31 unit usaha/ distributor/RPH/RPU

8

Formalin

327

0

Pasar tradisional

9

Boraks

8

0

Pasar tradisional

10

Residu Antibiotik

50

0

kerjasama dg BBVET Dps

 

Jumlah

56.401

14.536

 

 

Hasil pemeriksaan selanjutnya disampaikan ke pelanggan, bidang terkait dan  instansi terkait di Kabupaten/Kota sebagai bahan pengambilan kebijakan dan monitoring/pembinaan. (yuli antariksa/medik veteriner)